Selasa, 28 Mei 2013

Makalah Controling


BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
Dalam setiap bentuk kepemimpinan, pengawasan merupakan sesuatu yang harus ada dan harus dilaksanakan. Kegiatan ini berguna untuk mengawasi dan meneliti apakah suatu pekerjaan yang telah direncanakan sebelumnya berhasil dilaksanakan atau tidak. Hal ini juga bertujuan apakah ada penyimpangan, penyalahgunaan atau kekurangan dalam pelaksanaanya. Kasus-kasus yang sering terjadi dalam suatu organisasi adalah tidak diselesaikanya suatu tugas, tidak ditepatinya waktu penyelesaian, anggaran yang berlebihan. Jika memang ada maka perlu dilakukan revisi. Ini juga bisa menjadi suatu bukti dan perhatian serta sebagai bahan bagi pimpinan untuk memberikan petunjuk pada tahap berikutnya.

B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apakah yang dimaksud dengan controlling ?
2.      Apa saja tipe-tipe controlling ?
3.      Faktor-faktor apa saja yang membuat controlling semakin diperlukan ?





BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Controlling
Controlling dapat didefinisikan sebagai proses untuk “menjamin” bahwa tujuan-tujuan organisasi dan manajemen tercapai. Ini berkenaan dengan cara-cara membuat kegiatan-kegiatan sesuai yang direncanakan. Pengertian ini menunjukan adanya hubungan yang sangat erat antara perencanaan dan pengawasan.[1]
Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:                         
 حاسبوا أنفسكم قبل أن بحاسبوا ونوا أعمالكم قبل أن توزن
”Periksalah dirimu sebelum memeriksa orang lain. Lihatlah terlebih dahulu atas kerjamu sebelum melihat atas kerja orang lain”
Al-Qur’an banyak menyebutkan mengenai mengontrol dan mengoreksi kepada diri sendiri dan ancaman bagi yang melanggarnya. Surat at-Tahrim ayat 6 menyebutkan:
ياأيها الذين أمنوا قوا أنفسكم وأهليكم ناوا (التحريم: 6
Artinya: hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Q.S. at-Tahrim: 6)[2]
Tak dapat disangkal bahwa masing-masing fungsi pimpinan berhubungan erat satu sama lain. Hal ini akan lebih jelas, bila kita ingat bahwa sesungguhnya fungsi pimpinan yang lima itu,yakni merencanakan, pengorganisasian, penyusunan, memberi perintah, dan pengawasan adalah prosedur atau urutan pelaksanaan dalam merealisasi tujuan badan usaha. Walaupun terdapat kenyataan demikian, umumnya para ahli lebih menonjolkan hubungan erat antara perencanaan, memberi perintah, dan pengawasan.
Perencanaan berhubungan erat dengan fungsi pengawasan karena dapat dikatakan rencana itulah sebagai standar atau alat pengawasan bagi pekerjaan yang sedang di kerjakan. Demikian pula fungsi pemberian perintah berhubungan erat dengan fungsi pengawasan itu merupakan  follow up dari perintah-perintah yang sudah dikeluarkan. Apa yang sudah diperintah haruslah diawasi, agar apa yang diperintahkan itu benar-benar dilaksanakan.[3]
Pengawasan Manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan- tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan yang digunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.[4]
Sedangkan Controlling menurut pemakalah adalah, kegiatan yang dilaksanakan agar tujuan yang ditetapkan tercapai dengan mulus tanpa adanya penyimpangan-penyimpangan, jika memang ada maka nantinya diperlukan adanya perbaikan dimasa mendatang. Controlling biasanya dilaksanakan setelah fungsi-fungsi manajemen seperti Planning, Organizing, Actuating, terlaksana baru fungsi manajemen controlling dapat dilaksanakan.
B.     Tipe- Tipe Controlling
Ada tiga tipe dasar  pengawasan yaitu :
Pengawasan Pendahuluan (feedforward control). Pengawasan pendahuluan, atau sering disebut steering controls, dirancang untuk mengantisipasi masalah-masalah atau penyimpangan-penyimpangan dari standar atau tujuan dan memungkingkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu diselesaikan. Jadi pendekatan pengawasan ini lebih aktif dan agresif, dengan mendeteksi masalah-masalah dan mengambil tindakan yang diperlukan sebelum suatu masalah terjadi. Pengawasan ini akan efektif apabila manajer mampu mendapatkan informasi akurat dan tepat pada waktunya tentang perubahan-perubahan dalam lingkungan atau tentang perkembangan terhadap tujuan yang diinginkan.[5] Pemakalah berpendapat bahwa tipe pengawasan seperti ini berprinsip pada peribahasa “sedia payung sebelum hujan”. Karena pengawasan tersebut dilakukan pada tahap awal, sebelum penyimpangan-penyimpangan terjadi, sedangkan solusinya juga telah dibuat diawal. Maka, pimpinannya biasanya berfikir lebih kritis lagi, apa saja masalah yang akan terjadi apabila melakukan kegiatan ini sedangkan solusinya itu apa. Inilah pemahaman pemakalah tentang pengawasan pendahuluan.
Pengawasan yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan (concurrent control). Pengawasan ini sering disebut pengawasan “ya-tidak”, screening control atau “berhenti- terus, dilakukan selama kegiatan berlangsung. Tipe pengawasan ini merupakan proses dimana aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui dulu, atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan-kegiatan bisa dilanjutkan, atau menjadi semacam peralatan ”double check” yang lebih menjamin ketepatan pelaksanaan suatu kegiatan.[6] Menurut pemakalah pengawasan tipe seperti ini memerlukan beberapa kali kerja, pertama biasanya dilakukan sebelum melakukan pekerjaan, yang kedua dilakukan disaat pekerjaan, dan yang ketiga dilakukan setelah kegiatan dilakukan. Tidak mungkin suatu organisasi melakukan pengawasan diakhir kegiatan. Pengawasan ini lebih efektif karena pengawasan tidak hanya dilakukan disalah satu waktu saja.
Pengawasan Umpan Balik (feedback control). Pengawasan umpan balik, juga dikenal sebagai past- action controls, mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan. Sebab- sebab penyimpangandari rencana atau standar ditentukan, dan penemuan-penemuan diterapkan untuk kegiatan-kegiatan serupa dimasa yang akan datang. Pengawasan ini bersifat historis.[7]
Menurut pemakalah, dari tiga bentuk pengawasan tersebut diatas sangat berguna untuk manajemen. Pengawasan pendahuluan dan pengawasan yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan, cukup memadai untuk memungkinkan tindakan manajemen mencapai tujuan. Akan tetapi, setiap tipe pengawasn memiliki kelemahan dan kelenihan masing-masing. Kedua pengawasn tersebut membutuhkan pengawasan yang ekstra, sehingga tidak memungkinkan dirinya mengawasi secara terus menerus, yang kedua pengawasan yang terlalu berlebihan juga tidak terlalu baik, karena merasa di kekang, yang ketiga adalah pengawasan tersebut membutuhkan dana yang besar. Oleh karena itu setiap manajemen harus pintar memilih tipe pengawasan apa yang tepat untuk diterapkan di organisasinya, sesuai dengan situasi dan kondisi.
C.                     Faktor-faktor yang membuat controlling diperlukan
Perubahan lingkungan organisasi, melalui fungsi pengawasan manajer mendeteksi perubahan- perubahan yang berpengaruh pada barang dan jasa organisasi, sehingga mampu menghadapi atau memenfaatkan kesempatan yang diciptakan oleh perubahan-perubahan yang terjadi.
Peningkatan Kompleksitas Organisasi. Semakin besar organisasi semakin memerlukan pengawasan yang lebih formal dan hati-hati. Berbagai jenis produk harus diawasi untuk menjamin bahwa kualitas dan profitabilitas tetap terjaga, penjualan eceran pada penyalur perlu dianalisa dan dicatat secara tepat.
Kesalahan-Kesalahan. Sistem pengawasan memungkinkan manajer mendeteksi kesalahan-kesalahan yang ada sebelum menjadi kritis.
Kebutuhan Manajer untuk mendelegasikan wewenang. Bilamana menejer mendelegaikan wewenang kepada bawahannya, tanggung jawab atasan itu sendiri tidak berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat menentukan apakah bawahan telah melakukan tugas-tugas yang telah dilimpahkan kepadanya adalah dengan mengiplementasikan sistem pengawasan.[8]
BAB III
KESIMPULAN

Melakukan suatu tugas, hanya mungkin dengan baik bila seseorang yang melaksanakan tugas itu mengerti arti dan tujuan dari tugas yang dilaksanakan. Demikian pula seorang pemimpin yang melakukan tugas pengawasan, haruslah sungguh-sungguh mengerti arti tujuan daripada pelaksanaan tugas pengawasan. Fungsi pengawasan merupakan fungsi pimpinan yang berhubungan dengan usaha menyelamatkan  jalannya perusahaan ke arah pulau cita-cita, yakni kepada tujuan yang telah direncanakan.
Tipe-tipe pengawasan ada tiga yaitu, pengawasan pendahuluan, pengawasan concurrent, dan pengawasan umpan balik. Pengawasan berfungsi bagi fungsi-fungsi manajemen, terlitah dalam gambar dibawah ini.

DARTAR PUSTAKA
Hani Handoko, 1984, Manajemen, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta
Manullang, 2002, Dasar- Dasar Manajemen, Yogyakarta: Gadjah Mada Univercity Press


[1] T.Hani Handoko, Manajemen, BPFE Yogjakarta, Yogjakarta, 1984, halm.359
[3] M.Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, Gadjah Mada Univercity Press, Yogyakarta, 2002, hlm.172
[4] Hani Handoko, Op.Cit. halm.360
[5] ibid. halm.361
[6] loc. cit
[7] Ibid. halm.362

Tidak ada komentar:

Posting Komentar